Kemudian di suatu pagi di hari Sabtu, saya lagi iseng-iseng memeriksa rambut Mare kalo-kalo emang ada kutu penyebab gatal-gatal tersebut. Mare yang lagi asyik main di atas motor ayahnya (tentu saja lagi ditemenin sang ayah) paling ga suka kalo dipegang kepalanya jadi agak ribet memang....tapi tak lama kemudian saya [bener2] melihat sosok kecil berlarian di antara rambut Mare yang lebat dan hitam. Saya pun histeris dan meminta suami saya menjaga kepala Mare agar tidak bergerak-gerak. Akhirnya si biang keladi itu tertangkap dan saya sebelnya bukan main sehingga saya bunuh dengan kuku saya. Wah..timbul pertanyaan jangan-jangan masi banyak kutu di kepala Mare. Lalu kami sibuk memetani Mare lagi, dan kami hanya menemukan telur-telur kutu yang menancap kuat dihelai-helai rambut.
Karena peristiwa pagi itu, saya pun agak yakin kalo penyebab gatal kepala saya juga karena kutu. Saya meminta suami mencari di kepala saya, namun sia-sia. Sama sekali tak ditemukan si kutu-kutu tersebut. Suami saya bilang kalo diobati saja dengan obat kutu legendaris bernama Peditox. Namun saya ragu apakah obat tersebut aman atau tidak. Saya bilang nanti saja, dicari manual dulu. Tapi..malam hari ketika rasa gatal-gatal itu datang lagi dengan hebatnya (mungkin jam makan kutu ya?)saya menyerah, dan meminta suami saya membeli Peditox. Sesampai di rumah, setelah menidurkan Mare, saya langsung memakai obat tersebut. Saya meminta bantuan suami untuk mengolesi rambut dengan obat tersebut hingga benar-benar rata. Petunjuk pemakaiannya disuruh membiarkan semalaman. Namun ketika saya terbangun tengah malam untuk BAK, saya iseng membuka handuk yang menutupi kepala dan mengibas-ibaskan rambut ke arah lantai. Apa yang terjadi????
Satu per satu makhluk parasit si biang keladi itu berjatuhan di lantai. Jumlahnya sekitar 6 ekor. WTF!! ups..
Sungguh saya histeris sekali karena bener2 ga nyangka akan mengalami hal seperti ini. Tak bisa diduga juga darimana datangnya mereka. Keramas 2-3 hari sekali juga ga njamin kalo kita akan kena serangan kutu ini.
Setelah itu saya bungkus lagi kepala dengan handuk sampai pagi. Saya kibas-kibaskan lagi rambut ke lantai. Berjatuhan lagi para kutu sebanyak kurleb 5 ekor. Aduh...memalukannyaaaaa...Hari itu Mare juga saya baluri peditox namun hanya sedikit sekali dan tidak mengenai langsung kulit kepalanya. Saya takut berefek macam-macam sebenarnya...
Setelah berpeditox ria, saya baru browse tentang obat ini. Kabarnya obat ini sudah tidak disarankan lagi untuk digunakan karena efek bahan kimianya yang dikhawatirkan meresap ke pembuluh darah di kepala. Apalagi untuk anak-anak di bawah 2 tahun, sangat tidak dianjurkan. Tuh kan, ternyata emang ga boleh tapi ya berdoa aja semoga tidak berdampak apa-apa. Menurut orang-orang yang sering menghadapi masalah kutu ini, cara paling efektif adalah dengan mencari kutu dan telurnya secara manual dengan sisir serit. Tapi memang butuh kesabaran dan ketelatenan tinggi.
Beberapa hari kemudian, saya menuruti saran ibu saya untuk creambath, dan saya putuskan untuk creambath herbal yang biayanya sedikit lebih mahal tapi jelas aman. Secara sugesti sih, kutu-kutu sudah tak ada, namun telur-telur ini kan masih banyak dan harus dibuang juga. ART saya bilang kalo telur-telur kutu yang belum menetas itu juga menyebabkan kulit kepala gatal. Saya googling lagi dan menemukan cara yang konon ampuh memusnahkan telur2 kutu yaitu dengan larutan cuka yang biasa dicampur ke masakan. Dengan perbandingan tertentu larutan dioleskan ke seluruh rambut sehingga telur-telur itu akan mengempes dan tidak menetas. Setelah 3 kali terapi cuka ini, saya udah ga gatel-gatel lagi. Dan tiap hari keramas hingga seminggu. Melelahkan memang, tapi mau gimana lagi.
Oh iya bukannya saya menyebarkan fitnah atau apa, saya curiga pembawa kutu ini tidak lain dan tidak bukan adalah ART saya! Fyi, si mbak baru kerja di rumah sebulan lebih sedikit hingga peristiwa serangan kutu terjadi. Dan dia sering mengaku kalo kepalanya gatel-gatel banget karena ketombe. Saya sih mulanya biasa aja malah membelikan dia shampoo anti ketombe yang sama dengan yang saya pakai. Setelah saya menggunakan peditox, saya juga meminta si mbak memakai peditox, dan terbukti kutu-kutu mati berjatuhan dari rambutnya. Dan saya juga memberinya sisir serit untuk membuang telur-telur yang pasti masih melekat di helai-hela rambutnya.
The most luckiest one who didn't get head lice attack is my husband!! Tidak adil rasanya..huh...tapi bagaimana bisa ya, setiap malam kan kami bertiga tidur bareng. Kenapa si kutu tak mau bersarang ke kepalanya?? Agar pencarian telur kutu lebih mudah, Mare dan ayahnya cukur rambut hingga hampir gundul. Dan saya menemukan 4 telur kutu yang masih mungkin untuk menetas.
I hope that won't happen again in our beautiful life!
nb: beberapa link berkaitan dengan kutu rambut :
- http://www.dhpe.org/infect/lice.html
-http://majalahkesehatan.com/cara-alami-menghilangkan-kutu-rambut/



1 komentar:
hiiii sereeemmmm....tak pikir kutu udah gak jaman lagi sekarang. aku dulu juga udah pernah kena pas SD dan pake peditox, ampuh memang....tapi waktu itu belum tau efek sampingnya. kasihan kalau sampe kena Mare, ke kita aja rasanya gak nyaman banget :(
semoga kutunya gak balik lagi ya...
Posting Komentar