17.4.12

welcome to the world adek..

Masa penantian usai sudah. Saya dan keluarga sudah bertemu dengan anggota baru keluarga kami, adeknya kakak Mare, seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, kami sehat, semua keluarga bersuka ria.

Malam itu, Senin tanggal 2 April 2012, saya pergi ke klinik untuk kontrol rutin kandungan yang sudah memasuki usia 39 minggu. Tapi sebenarnya, kalo dihitung dari mens terakhir, usia kehamilan sudah hampir 42 minggu. Makanya saya agak resah kenapa belum ada tanda-tanda melahirkan hingga malam itu. Seminggu sebelumnya, dokter sudah memberikan keterangan kalau awal bulan belum ada tanda-tanda juga, akan diambil tindakan induksi. Sehingga pada malam itu saya udah nyiapin mental kalau akan di"apa-apakan" oleh sang dokter.
Dari hasil USG, kepala sudah terkunci di panggul, artinya sudah siap lahir, berat badan bayi turun, pertanda kualitas plasenta sudah berkurang. So..gpl alias ga pake lama dokter memutuskan untuk men-stripping saya. Rasanya panas dingin, teringat peristiwa yang sama 2 tahun lalu. Waaaaaaaw....sakit banget!! Saya teriak-teriak sambil berusaha melepaskan tangan si dokter. Dia bilang kalau sudah dibuat bukaan 2. Enak sekali dia bilang gitu, ga ngerasain sakitnya. Saya pun pulang membawa 3 butir tablet perangsang kontraksi yang diminum dengan dosis 1/4 tablet tiap minum. Sebelum pulang, si dokter juga bilang kalau siap-siap aja nanti malam ato pagi kembali ke klinik. Saya meringis aja, masih merasakan sakit.

Sesampai di rumah, sebelum tidur saya minum si tablet pemancing kontraksi kira-kira pukul 22.30. Lalu saya tidur seperti biasa. Sekitar pukul 01.00 saya terbangun dan merasakan mules yang gak biasa di kandungan saya. Saya pikir reaksi obatnya cepat sekali, apa benar ini pertanda saya akan segera melahirkan?
Saya berusaha melupakan rasa mules itu dan berusaha tidur kembali. Sekitar 1 jam kemudian saya terbangun lagi dan merasakan kontraksi yang lebih sakit dan datang setiap 10-15 menit. Saya bangun dari tempat tidur dan berusaha tenang, mengambil nafas panjang seperti yang diajarkan saat senam hamil. Saya berjalan bolak-balik di ruang tamu, sambil melihat jam untuk memastikan seberapa sering kontraksi datang. Hingga hampir setengah 3 pagi, kontraksi kian sering dan makin hebat. Kurang lebih setiap 8-10 menit. Saya kembali ke kamar dan bilang pada suami mengenai kontraksi yang saya rasakan. Suami mengajak saya segera ke klinik, tapi saya ingin menunggu sebentar hingga pukul 03.00. Saya kemudian membangunkan ibu saya, dan bersiap-siap bersama suami pergi ke klinik.

Pukul 03.10 sampai di klinik. Tak ada satu orang pun yang kami temui. Suami mencari orang di reception, menyuruh kami ke ruang bersalin, tempat bidan-bidan seharusnya stand-by. Di area bersalin itu, kami tak juga menjumpai bidan atau perawat. Lalu kami keluar lagi, suami kembali ke reception dan meminta lagi untuk dihubungkan dengan bidan. Kontraksi makin menjadi-jadi datang setiap 7 menit. Kami masuk ke area bersalin lagi, ada suara perempuan yang menyambut salam saya. Rupanya bidan yang sedang bersiap-siap membantu persalinan. Saya diminta ganti baju yang telah disediakan dan buang air kecil. Kemudian saya dipersilahkan ke ruang bersalin dan berbaring. Ruangan yang sama ketika saya melahirkan Mare dulu. Tidak lama kemudian datanglah seorang bidan yang hendak memriksa bukaan dan denyut jantung bayi. Ternyata sudah bukaan 4! Antara senang dan deg-degan karena tidak lama lagi saya akan melahirkan. Setelah itu, merupakan waktu yang rasanya bertahun-tahun dirantai di ranjang besi yang sama sekali tidak nyaman, sambil merasakan perut yang sakitnya luar biasa dan makin dahsyat. Saya melihat jam dinding, masih pukul 4 kurang, kontraksi datang setiap 4 menit. Lalu saya berusaha melawan rasa sakit itu dengan mengatur napas dan membayangkan hal-hal indah yang akan terjadi setelah ini. Saya juga meminta suami memijat-mijat kaki agar saya lebih santai. Kontraksi makin sering datang setiap 2-3 menit, jam dinding menunjukkan pukul 4.30. Suami saya terlihat ngantuk dan entah kenapa saya jadi sebel, karena saya berharap dia menyemangati saya ketika kontraksi datang. Pukul 05.00 mungkin bukaan hampir lengkap karena saya merasakan ada yang mendorong keluar seperti akan BAB. 20 menit kemudian saya udah tak tahan lagi sakitnya dan ingin sekali mengejan. Saya sedikit berteriak mengeluh kesakitan. Suami saya berusaha menyemangati tapi saya ingin sekali tuki datang dan menemani saya. Sehingga suami saya agak bingung dan segera menelepon adik saya untuk menjemput tuki di rumah.
Rasa ingin mengejan sudah tak terbendung lagi, jadilah saya mengejan sedikit-sedikit. Saya meminta suami untuk memanggil bidan agar memeriksa bukaan. Bidan pun datang, dan saya bilang saya udah pengen ngejan. Setelah dilihat, ternyata kepala bayi sudah sedikit keluar. bSaya diminta menahan sebentar. Yang ada malah saya kembali mengejan. Bidan ternyata belum siap bener...jadi agak panik juga. Setelah itu saya tidak diperbolehkan mengejan lagi. Beberapa saat kemudian, lahirlah bayi mungil yang selama 9 bulan lebih saya bawa kemana-mana. Alhamdulillah...

Pukul 5.32 tepatnya, bayi perempuan saya lahir dengan sehat. Langsung menangis. Dan saya diperkenankan melakukan IMD. Selama kurang lebih 15 menit, sembari menunggu keluarnya plasenta dan acara jahit-menjahit, saya memandangi sosok bayi saya yang merah dan tampak tak berdaya. Suami langsung mengadzani. Setelah itu si adek dibawa ke ruang bayi untuk diobservasi dan dimandikan.
Saya juga harus memulihkan diri di ruang itu kurang lebih 2 jam. Lega rasanya sudah melalui masa-masa sulit.

Dua jam kemudian, saya dibawa ke kamar perawatan dan melihat dari luar si adek yang ditaruh di inkubator di ruang bayi. Disana sudah ada tuki, ibu mertua, dan si kakak Mare. Kata tuki, Mare sangat antusias melihat adeknya. Saya senang sekali mendengarnya, semoga Mare benar-benar siap jadi kakak.

Waktu terasa berjalan sangat lambat ketika berada di kamar perawatan. Saya ingin segera menggendong si adek, namun belum ada tanda-tanda si adek akan dibawa ke kamar. Lalu saya ke ruang bayi dan bertanya kapan saya bisa membawa adek ke kamar, dan perawat bilang beberapa jam lagi.
Dua jam berlalu, sekitar pukul 3 sore adek dibawa perawat ke kamar. Seneeeeeng banget melihatnya. Tapi agak sedih juga karena saat itu ASI saya belum keluar, barang setetes.

0 komentar:

Posting Komentar